Semerbak diskursus islamisasi sains menebar pesona dengan mencitrakan diri sebagai ilmuwan Islam yang benar. Dengan argumen historis menampilkan superioritas yang pernah diraih. Pesonanya pun seakan membangkitkan gairah para intelaktual (yang beragama) Islam untuk membangun kembali puing-puing reruntuhan. Tidak ketinggalan para muslim yang bergelut di bidang psikologi, juga turut meramaikan pengembangan ilmu pengetahuan dengan menggagas Psikologi Islam.
Namun
seperti halnya gagasan islamisasi pengetahuan yang mengandung kontroversi,
Psikologi Islam juga menebar aroma perdebatan antara yang pro dan kontra. Yang
pro Psikologi Islam berpendapat bahwa dalam khasanah Islam pada dasarnya tidak
sedikit yang membincangkan manusia sebagai objek material dari psikologi itu
sendiri. Untuk itulah dengan gagasan Psikologi Islam mereka ingin menegaskan
bahwa pandagan Islam lebih baik daripada konsepsi yang ada dalam hamparan
Psikologi modern (barat)
Sedangkan
yang menolak gagasan tentang Psikologi Islam berargumentasi hampir sma dengan
penolakan terhadap islamisasi ilmu pengetahuan. Bahwa pada dasarnya konsepsi
psikologi yang sudah ada tidak perlu diislamkan karena terlalu naïf jika teks
keagamaan yang ada dalam Islam hanya dijadikan legitimasi pada konsepsi psikologi
yang sudah ada akan berujung pada labelisasi.
Terlepas dai
pro dan kontra munculnya psikologi Islam tersebut, penulis ingin mencoba
menelaah ulang gagasan Psikologi Islam yang sampai saat ini pun diantara para
pendukungnya sendiri masih memperdebatkan apakah menggunakan istilah Psikologi
Islam, Psikologi Islami atau Psikologi Muslim. Walaupun sebenarnya cita-cita
yang ingin dicapai sama, yakni menjadikan Psikologi selaras dengan nilai-nilai
Islam. Dari perdebatan tersebut bisa dilihat secara sederhana tentang gagasan
psikologi Islam kosong tanpa landasan epistemologi. Padahal dalam rentangan
sejarah ilmu pengetahuan selalu ditopang oleh rancang bangun epistemologi.
Sejarah
keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa
manusia.
Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia
dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis
Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat
kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut
kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun
akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam
dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan
beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah
bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai
(al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim
al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana
ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan
berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur
sekalipun jasadnya hancur.
Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa
dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai
berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan
Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak
dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan,
sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan
terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat
jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek
mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan,
hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang
pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya
pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).
Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang
jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis
kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani
hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia
adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali
ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri.
Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang
lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu
Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan
puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal
dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi).
Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para
nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham
dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan
Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).
Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan
tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf.
Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa
yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam
aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w.
898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk
kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia
sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa
yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan
beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).
Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111
M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode
penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik
dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang
peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa
seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau
jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber
Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim
Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of
Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).
Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan
ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala
oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam
di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene
sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio
sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam
yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau
terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para
ahli psikologi Islam.
Hakekat Kejadian Manusia
Menurut
bahasa artinya kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu.
Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang
menjadi jiwa sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti
dan jiwa dari suatu syariat itu sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari
hakikat diri manusia yang sebenarnya karena itu muncul kata-kata diri mencari
sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati,
roh, dan rahasia. Manusia merupakan makhluk yang paling mulia di sisi Allah
SWT. Manusia memiliki keunikan yang menyebabkannya berbeda dengan makhluk lain.
Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap
dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia
terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.
Pengertian Manusia
Pengertian
manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari
kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi
atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat
diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah
kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan
sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak
berkemampuan tinggi. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah
diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu
konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran
menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan
tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat bergantung metodologi
yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari.
Para
penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (makhluk
berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku
interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan social
(superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani), rasional
(akali), dan moral (nilai).
Para
penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanibcus (manusia
mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang
menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis
(aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior
yang menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkah
laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap
lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para
penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia
berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai makhluk
yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir.
Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu
tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir ,
memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan
manusia.
Dalam
al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna
manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan
dan al-nas.Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi
:
innama anaa basyarun mitlukum
“sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti
kamu”.
Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat
biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering seperti ayah al
Hijr ayat 33 :
قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ
مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud
kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
Selain itu dalam surah al-ruum : 20 Allah berfirman
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا
أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari
tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali,
diantaranya (al-alaq : 5), yaitu
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis
atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul
amanah seperti dalam surah al-ahzab : 72.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ
ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”
Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus
bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti
al-zumar : 27
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ
كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al
Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.
Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai
makhluk social atau secara kolektif.
Dengan demikian al-quran memandang manusia sebagai
makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan
sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau
makhluk lain.
Pengertian manusia menurut para ahli
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia
adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani
akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
ABINENO J. I
Manusia
adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang
terbungkus dalam tubuh yang fana”
UPANISADS
Manusia
adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana
ataubadan fisik
I WAYAN WATRA
Manusia
adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan
karsa
OMAR MOHAMMAD
AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia
adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan
manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia
dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
ERBE SENTANU
Manusia
adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia
adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
PAULA J. C & JANET W. K
Manusia
adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung
jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola
berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.
Pengertian manusia menurut agama islam
Dalam
Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan,
al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang,
jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’).
Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam
karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam
Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling
mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam
menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Sebenarnya maniusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu :
Jasmani,
Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah.
Ruh, Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya
hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
Jiwa (an
nafsun/rasa dan perasaan.
Manusia
memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat
dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada
dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohania.
Ibnu sina
yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk
social dan sekaligus makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk social untuk
menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup
dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai
kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia.
Menurut Dr.
Marzuki, M.Ag, al-Quran tidak membicarakan proses kejadian manusia secara
detail, sebagaimana yang dijelaskan oleh ilmu biologi atau ilmu kedokteran.
Namun demikian, al-Quran memberikan isyarat mengenai asal kejadian manusia yang
tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, khususnya biologi.
Allah
menceritakan dalam al-Qur’an tentang kejadian manusia, antara lain pada surat
berikut ini. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan O Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” QS. al-Alaq [96] 1-2
Juga dalam
surat al-Mu’minun : 12-14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari suatu saripati (berasal) dari tanah o Kemudian Kami jadikan saripati itu
air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) o 14. Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik.
Menurut
Alfat (1997: 17-19), manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani.
Jasmani adalah unsur yang dapat dilihat dan disentuh oleh panca indera. Jasmani
merupakan bagian manusia yang melakukan gerakan-gerakan fisik, seperti
bernafas, makan, minum, dan sebagainya. Sedangkan, rohani merupakan unsur yang
tak dapat dilihat dan disentuh oleh kelima indera manusia, yang dapat mendorong
manusia untuk melakukan aktifitas berfikir. Dari aktifitas berfikir inilah
manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan mana yang
salah. Bahkan untuk lebih sempurnanya, manusia diberi bentuk tubuh yang bagus
di antara makhluk-makhluk lainnya. Sebagaimana dalam firman-Nya :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.” (QS. at-Tiin [95]: 4).
Menurut
pandangan Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu suci dari dosa.
Menyitir sebuah hadits, tidaklah dilahirkan seorang anak melainkan atas
fitrah,maka orang tuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi atau
Kristen, atau agama Majusi (penyembah api) (HR. Muslim).
Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
Dalam
al-Qur’an, manusia menempati kedudukan yang istimewa dalam alam semesta ini.
Dia adalah khalifah atau pemimpin di muka bumi ini, sebagaimana firman Allah
dalam surat al-Baqarah ayat 30,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي
الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ َ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Allah memberikan kepercayaan yang besar kepada manusia
untuk menjadi khalifah di bumi. Manusia diberi keleluasaan mengolah alam ini
untuk kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di muka bumi itu sendiri.
Tugas Pokok Manusia
Allah
menciptakan manusia agar mengabdi kepada-Nya. Dalam surat adz-Dzariyat : 56
disebutkan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku”.
Mengutip
pendapat Abul Majid al-Zandaniy (1991: 23) Pengabdian kepada Allah harus
ditempatkan di atas segalanya, karena pengabdian kepada Allah merupakan jalan
hidup yang benar. Kehidupan di dunia bersifat sementara, sedangkan tujuan
akhirnya adalah kehidupan akhirat, yakni menghadap Illahi. Pengabdian kepada
Allah, harus disadari oleh manusia sebagai tugasnya yang pokok, agar manusia
memperoleh kebaikan hidup di akhirat kelak.
Manusia
diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan
di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas
kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta
pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah
berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah untuk mewujudkan
kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat
kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka
bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai
khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan,
sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia
sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang
dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan
manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan
yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang
tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam
semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili
adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati
kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban
terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana
firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39):
هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ
كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa
yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran
orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada
sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan
menambah kerugian mereka belaka.
Kedudukan
manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah
dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak
terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang
menciptakannya.
Dua sisi
tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa.
Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang
menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah,
seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya “sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Di dalam Al
Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab
manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat
memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat
menjalani kehidupan dengan penuh makna.
EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA
Dibandingkan
dengan makhlukm lainnya, manusia mempunyai kelebihan . Kelebihan itu membedakan
manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk
bergerak dalam ruang yang bagaimanpun, baik di darat, di laut, maupun di udara.
Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada
binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai
keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia.
Di samping itu, manusia di beri akal dan hati sehingga
dapat memahami ilmu yang diturunkan allah. Allah menciptakan manusia dalam
keadaan sebaik-baiknya (at-tiin,95:4). Manusia tetap bermartabat mulia, kalau
mereka sebagai khalifah (makhluk alternative) tetap hidup dengan ajaran allah
(QS. Al-an’am:165). Oleh karena ilmu manusia di lebihkan dari makhluk lainnya.
A. Tujuan penciptaan manusia
Tujuan
penciptaan manusia adalah menyembah kepada penciptanya yaitu allah. Pengertian
penyembahan kepada allah tidak bisa di artikan secara sempit, dengan hanya
membayangkan aspek ritual yang tercermin dalam shalat saja. Penyembahan berarti
ketundukan manusia dalam hokum allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi,
baik yamg menyangkut hubungan manusia dengan tuhan maupun manusia dengan
manusia.
Oleh kerena
penyembahan harus dilkukan secara suka rela, karena allah tidak membutuhkan
sedikitpun pada manusia karena termasuk ritual-ritual
penyembahannya.Penyembahan yang sempurna dari seorang manusia adalah akan
menjadikan dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dalam mengelolah alam
semesta. Keseimbangan pada kehidupan manusia dapat terjaga dengan hukum-hukum
kemanusiaan yang telah allah ciptakan.
B. Fungsi dan peran manusia
Manusia
sebagai salah satu makhluk hidup di Bumi ini mempunyai berbagai fungsi, peran
dan tanggung jawab, dan Islam sebagai agama dengan jumlah pemeluknya terbesar
dibanding agama-agama yang lain, sudah tentu mempunyai pandangan tersendiri
akan fungsi, peran dan tanggung jawab manusia di Bumi.
Peran Manusia Menurut Islam
Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي
الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ
مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui”.
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ
عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!”
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا
ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang
kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا
أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama
benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang
kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا
إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا
مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan
isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا
كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ
مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga
itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu!
sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman
di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah
sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :
Belajar
surat An naml : 15-16
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ
عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ
الْفَضْلُ الْمُبِينُ
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud
dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan
kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”. Dan Sulaiman telah mewarisi
Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara
burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar
suatu kurnia yang nyata”.
Belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al
Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
Mengajarkan
ilmu (al Baqoroh : 31-39)
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ
عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!”
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا
ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang
kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا
أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada
mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka
nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa
yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا
إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا
مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan
isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا
كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ
مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan
dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi
musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan
hidup sampai waktu yang ditentukan”.
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ
ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya,
maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ
مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga
itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak
(pula) mereka bersedih hati”.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ
أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Adapun
orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.
Membudayakan
ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk
disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri
dahulu agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Tanggung Jawab Manusia Menurut Islam
Manusia
diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka
bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka
bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah
berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah untuk mewujudkan
kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat
kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka
bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai
khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan,
sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia
sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang
dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan
manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan
yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang
tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan
alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang
diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta
mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta
pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang
diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya
adalah :
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa
yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah
akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir
itu tidak lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan
manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah
dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak
terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang
menciptakannya.
Dua sisi tugas
dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa.
Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang
menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah,
seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya “sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Di dalam Al
Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab
manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat
memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat
menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Berpedoman
pada al-quran surah al-baqarah ayat 30-36, status dasar manusia yang mempolori
oleh adam AS adalah sebagai khalifah. Jika khalifah diartikan sebagai penerus
ajaran allah maka peran yang dilakukan adalah penerus pelaku ajaran Allah dan
sekaligus menjadi pelopor membudayakan ajaran allah.Peran yang hendaknya
dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah di antanya
adalah :
· Belajar
· Mengajarkan ilmu
· Membudayakan ilmu
Oleh karena
itu semua yang dilakukan harus untuk kebersamaan sesama ummat manusia dan hamba
allah, serta pertanggung jawabannya pada 3 instansi yaitu pada diri sendiri,
pada masyarakat, pada Allah SWT.
Tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah
Allah SWT
Tanggung
jawab manusia sebagai hamba Allah SWT.
Makna yang
esensial dari kata abd’ (hamba) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan
manusia hanya layak diberikan kepada Allah SWT yang dicerminkan dalam ketaatan,
kepatuhan dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan.Oleh karena itu, dalam
al-quran dinyatakan dengan “quu anfusakun waahlikun naran” (jagalah dirimu dan
keluargamu dengan iman dari api neraka).
Tanggung
jawab manusia sebagai khalifah Allah SWT
Manusia
diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus dipertanggungjawabkan
dihadapannya. Tugas hidup yang di muka bumi ini adalah tugas kekhalifaan, yaitu
tugas kepemimpinan, wakil allah di muka bumi, serta pegolaan dan pemeliharaan
alam.Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia
menjadi khalifah memegang mandat tuhan untuk mewujud kemakmuran di muka bumi.
Kekuasaan yang diberikan manusia bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya
mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan
hidpnya.
Oleh karena
itu hidup manusia, hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah. Kerja
keras yang tiada henti sebab bekerja sebab bekerja sebagai seorang muslim
adalah membentuk amal saleh.
